Beranda | Artikel
Islam Mengajarkan Kebersihan
19 jam lalu

Islam Mengajarkan Kebersihan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Ramadhan 1447 H / 10 Maret 2026 M.

Kajian Tentang Islam Mengajarkan Kebersihan

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ

“Suci itu adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim)

Kebersihan merupakan wujud iman yang ada di dalam hati seseorang. Selain menjaga kebersihan diri, seorang muslim juga dituntut menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ

“Bersihkanlah pekarangan kamu.” (HR. Thabrani)

Bahkan sebelum tidur, beliau terbiasa mengibaskan tempat tidur agar bersih dari benda atau hewan berbahaya. Salah satu karakter utama seorang mukmin adalah senantiasa menjaga wudhu, sehingga ia dipastikan selalu dalam kondisi suci dari najis maupun hadas. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

“Tidak ada yang menjaga wudhu selain orang mukmin.” (HR. Ahmad)

Korelasi Kebersihan Lahir dan Batin

Kebersihan lahiriah memiliki pengaruh besar terhadap kebersihan jiwa. Ketika Islam memerintahkan hamba-Nya untuk membersihkan jasmani, terdapat hikmah agar rohani dan batin pun ikut bersih. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering menjelaskan pengaruh antara unsur lahir dan batin ini. Misalnya dalam salat, beliau memerintahkan untuk merapikan shaf secara rapat dan teratur tanpa ada yang menonjol maju atau mundur. Beliau bersabda:

اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Luruskanlah (safmu) dan janganlah berselisih (tidak rata), sehingga hati kamu pun akan berselisih.” (HR. Muslim)

Ketidakteraturan fisik atau lahiriah menunjukkan adanya ketidakteraturan pada batin. Oleh karena itu, kebersihan dan kerapian jasmani akan memudahkan seseorang untuk membersihkan hatinya.

Pengaturan Islam Mengenai Kesucian Diri

Islam mengatur tata cara bersuci secara detail melalui bab najis dan hadas. Seseorang yang dalam kondisi tidak suci, seperti sedang junub, haid, atau nifas, wajib melakukan mandi besar untuk mengangkat hadas tersebut. Pandangan yang menganggap bahwa kebersihan jasmani tidak penting selama hati bersih adalah kaidah yang keliru. Islam memperhatikan seluruh aspek kehidupan, termasuk kerapian diri.

Sifat qana’ah (merasa cukup) bukan berarti tampil acak-acakan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa menjaga kerapian, kebersihan badan, bahkan sering mengenakan parfum agar wangi. Hal ini sejalan dengan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)

Hakikat Kesombongan dan Keindahan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mempermasalahkan seseorang yang mengenakan pakaian, sandal, atau sepatu yang bagus. Ketika beliau memperingatkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang memiliki kesombongan sebesar biji atom di hatinya, para sahabat sempat mengira bahwa menyukai pakaian bagus adalah bagian dari sombong. Namun, beliau meluruskan pemahaman tersebut:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)

Umat Islam hendaknya menghindari perilaku bermegah-megah atau berlebih-lebihan dalam kemewahan karena hal tersebut termasuk kategori mubazir. Namun, bukan berarti seorang muslim harus tampil memprihatinkan atau menunjukkan kesan “melas” agar orang lain merasa kasihan.

Kisah para generasi salaf yang mengenakan pakaian dengan tambalan tidak boleh digambarkan sebagai kondisi compang-camping seperti gelandangan. Seseorang dapat menambal pakaian dengan cara yang rapi dan baik. Zuhud dan qana’ah tidak identik dengan penampilan kotor, acak-acakan, atau tidak teratur. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah tampil dengan kondisi buruk di hadapan para sahabat. Beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi)

Jika seseorang memiliki harta, ia harus menggunakannya terlebih dahulu untuk menopang kehidupannya agar sehat. Mengabaikan kesehatan padahal memiliki kemampuan finansial termasuk perilaku kikir terhadap diri sendiri. Hal ini juga berlaku dalam berpakaian karena Allah memuliakan manusia melalui pakaian yang layak sebagai pembeda dengan hewan. Menggunakan pakaian yang bagus dan pantas, meskipun tidak harus mewah, adalah bagian dari adab yang diajarkan dalam Islam.

Menanamkan Budaya Bersiwak Sejak Dini

Islam mengajarkan banyak hal mengenai kebersihan yang perlu diperkenalkan kepada anak-anak, salah satunya adalah bersiwak. Meskipun fungsi siwak dapat digantikan oleh sikat gigi untuk membersihkan mulut, siwak memiliki keutamaan tersendiri yang tidak tergantikan. Budaya memperhatikan kesehatan mulut ini dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang senantiasa bersiwak ketika hendak tidur, bangun tidur, masuk ke rumah, hingga sebelum wudu dan salat.

Pendidikan mengenai kebersihan mulut sangat penting karena masalah pada gigi dapat mempengaruhi sistem saraf dan mengganggu kinerja otak. Anak-anak yang giginya bermasalah sering kali mengalami gangguan dalam belajar atau menghafal akibat rasa sakit yang ditimbulkan.

Keutamaan Menjaga Wudhu sebagai Karakter Mukmin

Kegemaran menjaga wudhu merupakan karakter seorang mukmin yang perlu dibiasakan kepada anak-anak. 

وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

“Tidak ada yang menjaga wudhu kecuali orang mukmin.” (HR. Ahmad)

Secara mental, seseorang yang berada dalam kondisi suci cenderung lebih menjaga diri dari perbuatan dosa. Amalan ini pula yang menjadi sebab Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu mendapatkan kedudukan mulia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar suara langkah kakinya di surga dalam mimpi beliau karena konsistensi Bilal dalam menjaga wudhu. 

Melatih anak-anak untuk senantiasa dalam keadaan suci akan membentuk kedisiplinan lahir dan batin sejak masa pertumbuhan mereka. Menjaga wudhu berfungsi sebagai perisai yang melindungi seorang hamba dari berbagai keburukan. Menjaga kesucian diri merupakan kebiasaan para sahabat, sebagaimana Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang terbiasa memperbarui wudhu setiap kali hendak salat meskipun belum batal. 

Menjaga Kebersihan Lingkungan

Praktik ini diperbolehkan dan menjadi teladan dalam menjaga kebersihan. Kebiasaan menjaga kebersihan harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini, terutama kebersihan lingkungan seperti kerapian kamar tidur dan disiplin tidak membuang sampah sembarangan. Karakter ini sangat penting karena kesadaran menjaga lingkungan merupakan cerminan kemajuan peradaban suatu bangsa. Negeri yang bersih, rapi, dan teratur identik dengan peradaban yang maju dan modern, sedangkan lingkungan yang kotor dan penuh sampah memberikan kesan ketertinggalan.

Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga alam, termasuk kebersihan udara dan air. Kesadaran untuk tidak mencemari sungai serta menjaga emisi gas buang agar tidak mengotori udara selaras dengan prinsip Islam dalam menjaga kelestarian bumi. 

Korelasi Kebersihan Lahir dan Ketenangan Batin

Terdapat kaitan erat antara kebersihan jasmani dengan kondisi rohani. Anggapan bahwa seseorang boleh berpenampilan kotor selama hatinya bersih tidak sejalan dengan kaidah Islam. Kebersihan fisik merupakan indikasi awal dari kebersihan hati. Sebaliknya, kondisi yang kotor dan najis sangat disukai oleh setan.

Seseorang yang tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungannya cenderung lebih dekat kepada setan daripada malaikat. Salah satu indikasi jiwa yang rentan atau mudah dirasuki jin adalah kondisi fisik yang kotor dan tidak terjaga dari najis. Sebaliknya, malaikat sangat menyukai kebersihan dan menjauhi bau-bau yang tidak sedap. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang seseorang yang baru saja memakan bawang atau bahan berbau tajam untuk mendekati masjid agar tidak mengganggu orang lain dan malaikat. Beliau bersabda:

فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Karena sesungguhnya malaikat itu terganggu dengan apa saja yang mengganggu anak Adam (manusia).” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, membawa bau yang mengganggu seperti bau rokok ke dalam masjid dapat menyebabkan malaikat menjauh. Jika malaikat menjauh, maka setanlah yang akan mendekat.

Menjaga Lisan dan Kesabaran

Pentingnya menjaga diri tidak hanya terbatas pada kebersihan fisik, tetapi juga pengendalian diri dari nafsu amarah. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah meninggalkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu saat beliau mulai membalas cacian orang lain dengan cacian serupa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penjelasan bahwa beliau tidak ingin berada di tempat yang ditinggalkan oleh malaikat. Apabila malaikat menjauh dari suatu tempat atau keadaan, maka setanlah yang akan datang mendekat. Hal ini berlaku pula dalam perkara kebersihan diri. Seseorang yang membiarkan dirinya dalam kondisi kotor dan bau akan menyebabkan malaikat pergi menjauh, sementara setan akan merapat kepadanya karena malaikat tidak menyukai hal-hal yang kotor. Budaya bersih ini merupakan nilai dasar yang harus ditanamkan dan diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini.

Pentingnya Mengajarkan Istinja dan Istijmar

Salah satu aspek penting dalam kebersihan adalah mengajarkan tata cara istinja yang benar kepada anak-anak. Istinja bertujuan untuk membersihkan najis dan mengangkat status hadas dari diri seseorang. Kurangnya pemahaman mengenai cara bersuci setelah buang air kecil maupun buang air besar merupakan perkara serius, karena kelalaian dalam bersuci dapat menjadi penyebab datangnya azab kubur. 

Dalam syariat Islam, media utama untuk bersuci adalah air. Namun, apabila air tidak tersedia, Islam memberikan keringanan melalui istijmar, yaitu bersuci menggunakan media selain air seperti batu atau tisu. Pendidikan ini harus diberikan kepada anak-anak agar mereka terbiasa menjaga kebersihan pakaian dan lingkungannya dengan penuh kesadaran serta rasa senang.

Budaya Gaya Hidup Sehat dalam Islam

Selain menjaga kebersihan, setiap muslim diperintahkan untuk membudayakan gaya hidup sehat di lingkungan rumah. Hal ini mencakup mengonsumsi makanan yang baik, berolahraga secara teratur, beristirahat dengan cukup, serta membiasakan diri berpikir positif. Kesehatan jasmani yang terjaga akan sangat membantu seseorang dalam menjaga kesehatan rohani dan meningkatkan kualitas ibadah serta amal saleh.

Allah melarang hamba-Nya untuk dengan sengaja menjatuhkan diri ke dalam sakit atau kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)

Larangan ini juga dipertegas dalam sebuah kaidah fikih yang berasal dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh ada kemudaratan dan tidak boleh memudaratkan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Berdasarkan kaidah tersebut, seseorang dilarang untuk mencari penyakit atau melakukan aktivitas yang jelas-jelas membahayakan keselamatan dirinya, termasuk olahraga ekstrem yang memiliki faktor risiko kecelakaan sangat tinggi. Menjaga keselamatan jiwa dan kesehatan raga adalah bagian dari amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Setiap muslim dilarang mencari penyakit atau menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Salah satu kebiasaan yang dapat merusak kesehatan adalah begadang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan malam sebagai waktu untuk beristirahat dan tidur. Melanggar pola ini secara sengaja akan mendatangkan kemudharatan bagi tubuh.

Dalam Islam, terdapat waktu-waktu tidur yang dimakruhkan karena berpotensi mendatangkan keburukan bagi kesehatan, seperti tidur pada waktu pagi dan sore hari. Secara medis, tidur pada waktu-waktu tersebut dapat mengganggu metabolisme tubuh karena seharusnya saat itu tubuh sedang berada dalam fase aktif. Sebaliknya, Islam menganjurkan tidur siang (qailullah) yang terbukti memiliki manfaat besar, terutama bagi kesehatan jantung.

Ikhtiar untuk hidup sehat merupakan bagian dari menjalankan sunnatullah. Kesehatan tidak turun begitu saja dari langit, melainkan bergantung pada usaha hamba dalam menjaga pola hidupnya. Seseorang yang mengklaim tetap sehat meski sering merokok atau begadang hanyalah kasus penyimpangan yang sangat langka dan tidak dapat dijadikan ukuran umum bagi masyarakat.

Pengaturan Pola Makan dalam Syariat

Anak-anak perlu diajarkan pola makan dan tidur yang benar sejak dini. Islam mengatur aktivitas ini secara mendalam, bahkan dalam kitab fikih terdapat bab khusus mengenai makanan. Pengaturan tersebut mencakup cara makan, jenis makanan yang dikonsumsi, serta adab sebelum dan sesudah makan.

Kaidah umum mengenai pola makan telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf[7]: 31)

Kelebihan dalam mengkonsumsi makanan seringkali menjadi sumber penyakit yang mematikan. Oleh karena itu, disiplin makan harus ditanamkan kepada anak-anak. Di bulan Ramadan, pola makan diatur melalui sahur dan berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kamu, karena pada sahur itu ada berkah.” (HR. Bukhari)

Demikian pula dalam hal berbuka, menyegerakannya merupakan tanda kebaikan dalam agama seseorang. Semua aturan ini ditujukan untuk kemaslahatan dan kesehatan manusia itu sendiri.

Hikmah di Balik Takdir Kesehatan dan Sakit

Syariat Islam pada dasarnya menghendaki manusia untuk hidup sehat. Jika seseorang jatuh sakit karena melanggar aturan-aturan kesehatan yang telah ditetapkan agama, maka ia tidak boleh menyalahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Secara takdir, Allah memang menetapkan kondisi sehat maupun sakit, namun manusia harus tetap melakukan pemeriksaan diri atas sebab-sebab yang ia lakukan.

Manusia harus mengoreksi diri apabila tertimpa penyakit, mungkin karena banyak melanggar aturan-aturan agama yang berkaitan dengan penjagaan jasmani. Ketaatan pada syariat adalah ikhtiar terbaik untuk menjaga kesehatan lahir maupun batin.

Menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan faktor teknis seperti olahraga, tetapi juga faktor nonteknis, salah satunya adalah menghindari makanan haram. Makanan yang haram, baik secara zatnya maupun cara memperolehnya, dapat mendatangkan keburukan bagi tubuh. Sering kali penyakit datang secara tiba-tiba yang mengharuskan seseorang mengeluarkan biaya besar untuk pengobatan, meski ia merasa telah menjalani hidup sehat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan jenis makanan tertentu karena terdapat kemudaratan di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa menghindari makanan yang buruk, apalagi yang haram. Kesadaran ini harus ditanamkan kepada anak agar mereka memiliki tanggung jawab atas apa yang masuk ke dalam mulutnya. Generasi saat ini sering kali mengabaikan aspek kehigienisan dan kemaslahatan makanan demi mengikuti tren yang viral. Akibatnya, banyak orang di usia muda sudah mengidap penyakit berat seperti gagal ginjal, jantung, diabetes, kolesterol, hingga asam urat. Fenomena ini menunjukkan adanya pola makan yang salah karena tidak diajarkan sejak kecil.

Menanamkan Keindahan dan Keberanian (Syaja’ah)

Prinsip terakhir yang harus ditanamkan kepada anak adalah bahwa Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Anak perlu dibiasakan berpenampilan rapi dan merawat diri tanpa berlebih-lebihan. Selain kerapian, anak juga memerlukan edukasi mengenai sifat berani atau syaja’ah. Sifat ini merupakan salah satu akhlak mulia yang harus dimiliki seorang muslim. Keberanian tersebut sangat dibutuhkan terutama dalam membela diri dari kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Anak tidak boleh bersikap lemah di hadapan ancaman, melainkan harus memiliki keberanian yang terukur untuk menolak kejahatan. Keberanian ini dimulai dari membela diri sendiri, kemudian berkembang menjadi keberanian untuk membela orang lain.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56122-islam-mengajarkan-kebersihan/